Rabu, 13 November 2019

Nyeput


Assalamualaikum wr wb………….

     Setelah beberapa pekan yang lalu, saya menulis tentang bagaimana perjalanan saya untuk mencari tahu terkait keberadaan naskah kuno, nah pada kali ini saya akan menulis hal yang tidak jauh berbeda dengan tulisan saya di pekan lalu. Hanya saja, sekarang saya akan menulis terkait peristiwa yang menurut saya sangat berharga dan penuh dengan pelajaran menurut pribadi saya, orang Sasak menyebutnya dengan “Nyeput”.

     Nyeput ini merupakan tradisi mencabut salah satu bagian dari naskah kuno yang dimana dalam tradisi ini melakukan ritual dengan menggunakan buah pinang, daun sirih, beras, kapur, dan beberapa logam  yang entah entah itu logam apa tapi itulah yang saya lihat. Dalam ritual ini Papuq yang memegang naskah menyuruh satu persatu dari kami untuk menyabut salah satu bagian dari naskah tersebut.

     Sekarang tibalah giliran saya unntuk mencabut naskah tersebut yang konon katanya dalam naskah yang kita cabut tersebut adalah  makna hidup kita yang sebenarnya. Sebelum saya mencabut naskah tersebut terlebih dahulu saya membaca bismillah dengan harapan apa yang saya cabut merupakan yang terbaik terlebih untuk hidup saya ke depannya.

     Setelah saya mencabut naskah tersebut saya menyerahkan ke Mamiq tersebut dan langsung dibacakan, anehnya naskah tersebut tidak dibacakan dengan nada atau intonasi biasa tetapi dibaca dengan nada seperti orang yang sedang bernyanyi tapi bukan nyanyian biasa.

Video saat dibacakan naskah :

  Setelah naskah itu dibacakan tibalah saatnya untuk menganalisis atau yang disebut oleh Mamiq dengan memaknai isi dari naskah yang saya ambil atau yang saya cabut. Oh iya saya lupa menyebutkan nama naskah yang saya cabut, naskah itu bernama “Puh Dang Dang” yang entah apa artinya, karena pada saat itu setiap naskah yang kita cabut termasuk naskah saya tidak sempat diartikan satu persatu karena waktu yang tidak memungkinkan, hanya saja naskah itu dimaknai satu persatu.

Mamiq itu mulai mengatakan makna yang terkandung dalam naskah yang saya cabut, kata Mamiq itu : saya ingin sekali memiliki seoarang anak yang layaknya seperti seorang raja setelah itu mamiq itu juga bilang bahwa saya ini selalu berusaha memahami segala hal dan bahkan saya selalu memaksan untuk memahami segala hal yang pada kenyataanya saya tidak benar-benar memahami hal tersebut, katanya lagi saya tidak boleh belajar diam di kampus karena ketika saya hanya diam atau berpatokan di kampus saja maka saya akan banyak menghadapi masalah oleh karena itu saya harus keluar dan mencari pengalaman baru di luar agar tidak terlalu diam di kampus. Oh iya ada satu lagi katanya saya mudah menyerah atau mudah pesimis, setiap apa yang saya inginkan saya tidak benar-benar memperjuangkan dan mudah mundur lalu memulainya dari awa.

Itulah sepenggal makna yang 
terkandung dalam naskah yang saya cabut, entah maknanya itu sesuai dengan pribadi saya atau tidak, saya juga belum terlalu paham. Tapi saya sangat bersyukur setidaknya saya sedikit tau tentang diri saya walaupu saya tidak terlalu yakin akan hal tersebut.

Dokumentasi :





Pendekatan Pragmatik sangat cocok digunakam dalam hal ini, karena brtujuan untuk menyampaikan hal tertentu kepada pembaca dan memberikan berbagai macam pelajaran salahsatunya pelajaran moral, pendidikan dan banyak pelajaran hidup lainnya.

Demikianlah yang dapat saya tulis mudah-mudahan bermanfaat untuk pembaca, karena melestarikan kebudayaan adalah hal yang begitu mulia.

Wassalamualaikum wr wb………….


Nyeput

Assalamualaikum wr wb………….      Setelah beberapa pekan yang lalu, saya menulis tentang bagaimana perjalanan saya untuk mencari tahu ...